Friday, August 21, 2015

Untuk Teman SMA ku, Kalianlah yang Sejati, Kita Untuk Selamanya

Tiga tahun di SMA adalah salah satu periode paling indah dalam hidup kita. Saat itu kita masih muda, sangat muda. Walau selalu angkuh untuk percaya bahwa kita sudah begitu dewasa, -karena doktrin yang dulu itu bilang SD adalah anak-anak, SMP adalah remaja, dan SMA adalah dewasa-

Semangat yang meluap dan berkobar-kobar di masa inipun selalu didukung oleh orang-orang yang kita sebut teman. Mereka mengenalmu luar dalam, dan kamu pun demikian, mengenal mereka layaknya saudara. Kisah pertemanan ini telah melalui banyak momen indah baik suka, duka, dan kekonyolan khas remaja yang beranjak dewasa.

Hingga saat ini pun hubungan kalian masih berjalan dengan baik. Meski terpisah daerah karena harus ada yang kuliah dan kerja, silaturahim ini tetap terjaga dengan mengumpulkan mereka dalam grup alumni di BBM, Line atau whatsApp. Terkadang di sela kesibukan masing-masing, kita masih saja menyempatkan diri untuk sekadar say hello di chat. Ketawa ketiwi dengan bahan yang kadang gak jelas. Dan, moment mudik dan pulang kampung merupakan hal yang paling tunggu-tunggu, karena bisa berkumpul dan menertawakan kisah lucu di masa lalu yang selalu saja diulang-ulang tiap ngumpul, namun entah mengapa sedikitpun rasa bosan tak pernah muncul.

Terkadang pernah kah kalian berfikir, kenapa mereka, teman-teman masa SMA dulu masih selalu ada di hati hingga saat ini? Mengapa hubungan dengan sahabat-sahabat di masa SMA bisa terus terjaga? Untuk itu, ku mencoba menjabarkan, mengulang kisah, dan mungkin akan ku temukan jawabnya, mengapa para teman-teman SMA, masih saja terpatri dalam hati ini :)

 
Kamu dan Mereka Tumbuh Bersama. 
Dari Bocah Polos Biru Donker yang Hampir Tak Tahu Apa-apa Menjadi Pribadi yang Lebih Dewasa.
Bocah Polos -katanya-
Kita berasal dari SMP yang berbeda, ketika dipertemukan dalam satu sekolah yang sama, kalian merupakan pribadi-pribadi yang lugu, polos -tanpa dosa, (mungkin)-. Dan dengan teman-teman SMA lah kalian tumbuh dewasa bersama. Mengalami berbagai gejolak remaja seperti jatuh cinta, sok keren, angkuh, belajar, berorganisasi, segala romantisme masa SMA kalian alami bersama. Yah walaupun hanya 3 tahun dipersatukan di sekolah yang sama, namun kalian semua mampu berkembang pesat menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa pada akhir masa sekolah. Ada teman yang saat pertama bertemu merupakan orang yang lugu, namun diakhir sekolah ia merupakan yang paling “pengas”. Ada juga yang saat pertama bertemu tidak mengerti apa-apa, namun diakhir masa sekolah merupakan “guru” bagi semua. Ada juga yang “diam-diam menghanyutkan”, dan lain sebagainya. Dan juga, bersama merekalah kita merasakan apa itu arti persahabatan.



Merekalah yang Selalu Menerimamu Apa Adanya Tak Peduli Betapa “nakalnya” Kamu, dan Mereka Pula yang Berada Dibaris Terdepan Untuk Menghiburmu Ketika Kamu Dalam Masalah.

Geng Kelas, broo
Kamu dan mereka pernah mengalami masa indah itu bersama-sama. Mereka tahu segalanya tentangmu baik dan buruk dan begitu juga kamu. Meskipun begitu, mereka pula yang selalu terbuka untuk selalu menerimamu apa adanya. Saat orang lain menghakimimu dan menganggapmu tak baik, merekalah orang yang tetap merengkuhmu apapun situasinya. Saat semua orang menjauhimu tanpa sebab, mereka pulalah yang selalu dekat ada di samping mu.
Juga kasus lain, saat itu juga kamu masih terlalu muda untuk untuk menghadapi masalah-masalah besar, masalah cinta misalnya, saat pertama kali merasakan patah hati, mereka teman-teman SMA mu pulalah yang pertama datang menghibur, mereka kerap menghiburmu dengan cara mereka sendiri, apapun itu, yang jelas mereka ingin kamu tersenyum kembali. Temen-temen SMA ini lah yang selalu ada membantu kita melewati masa-masa itu. Mereka tak segan menghiburmu dan memberimu tempat bersandar. Persahabatan yang indah ini berhasil membuatmu lupa dengan sakit dan masalah yang melanda. Mereka selalu bisa membuatmu kuat, apapun itu caranya.



Kalian dan Kampung Halaman adalah hal yang tak dapat terpisahkan. 

Dan Mereka juga Bak Kampung Halaman yang Selalu Menjadi Tempat Untuk Kembali, Tak Peduli Jarak dan Waktu yang Memisahkan.
Sekolah dan Kampung Halaman
Kota kecil tempat kalian bersekolah merupakan saksi bisu perjalanan persahabatan kalian selama tiga tahun. Kalian pernah mengalami masa jaya dalam persahabatan kalian, masa dimana kalian berada di batas puncak, di masa itulah kalian temukan kebahagiaan. Rasa bangga akan persahabatan kalian pun secara otomatis menumbuhkan rasa bangga pula terhadap kampung halaman ini, dan kalian bangga dengan tempat kalian bersekolah. Makanya, sangat berat sekali meninggal kota ini saat kita sepakat bersama-sama memilih melanjutkan cita-cita meski di tempat yang berbeda. Karena kita sudah menemukan rasa memiliki yang dalam dan bermakna pada kota itu yang telah menyimpan berbagai memori tentang masa sekolah kalian dulu. 

Dan ketika setelah lulus SMA, kalian pun harus mengejar mimpi masing-masing. Terpisah kampus, jurusan, bahkan daerah, Jogja, Malang, Pekanbaru, Batam, Pontianak, Dokter, Insinyur, Polisi, Guru, Bidan, Perawat, Arsitek dan apapun itu yang jelas kamu dan teman-temanmu tak bisa lagi seheboh dulu. Di satu sisi kamu merasa sedih karena tak lagi berada di bawah atap yang sama, tak lagi dalam satu kesatuan yang bersama mereka kamu hampir melewati semua segmen dalam kehidupan. Namun di sisi lain, ini lah sebuah kenyataan yang harus dihadapi untuk menggapai impian masing-masing, dan temen-temanmu paham betul bahwa perpisahan ini adalah yang terbaik bagi kita semua.
Namun setelah selama ini terpisah jarak dan lama tak bertemu, kamu masih menjadikan mereka sebagai salah satu tujuan mengapa kamu harus kembali ke kampung halaman. Setiap kali ada kabar bahagia ataupun sedih, kamu selalu sempat menghubungi mereka. Sesekali jika ada waktu dan kesempatan yang diberi pun kalian menyempatkan waktu untuk bertemu muka, atau bahkan sekedar chatting membicarakan segala hal yang pernah kalian jalani bersama. Dengan mereka, rasanya kamu tak pernah beranjak tua, kita masih saja seperti 17 tahun dan menikmati masa muda bersama.





Ikatan Persahabatan yang Erat, Membuat Kamu Tak Hanya Mengenal Nama dan Hobby Mereka Saja, Kamu pun Kenal Baik dengan Ayah, Ibu, dan Saudara-saudara Mereka.

Kalian dan Keluarga
Tanda persahabatanmu yang dalam adalah, kamu tak hanya sekedar mengetahui mereka, namun juga hingga ke keluarga mereka. Kalian sering menghabiskan waktu bersama bukan? Sering menginap di rumah, bercerita hingga larut malam. Sejak kamu sangat sering menghabiskan waktu bersama mereka, kamu pun jadi mengenal baik keluarga mereka. Kamu dekat dengan ibu dan ayah mereka, bahkan kakak dan adik mereka. Tak jarang kamu pun masih saling menanyakan kabar keluarga dan berbagai berita yang terkini tentang mereka. Memang rasanya teman masa SMA itu bukan hanya sekedar teman, tapi juga saudara yang memiliki keterikatan batin yang erat.



Foto Alay dan Konyol Merupakan Benda Keramat yang Wajib Disimpan.

Yaa Rabb, ampuni kami... O:)
Bukan sahabat namanya jika tak menyimpan foto-foto alay dan konyol -baca : AIB- saat sekolah. Karena kita tak hanya sebatas belajar, waktu kosong pelajaran yang diisi dengan berbagai “kegiatan” ini acap kali didokumentasikan oleh beberapa teman, tidur mendengkur dikelas, foto alay gaya khas 2000an, serta video-video yang tak bosan-bosannya diputar. Dan beberapa dari temenmu tentu ada yang menyimpan file itu hingga saat ini. File yang kelak akan dibuka ketika rindu sudah menyesakkan dada, file yang kembali mengingatkan bahwa kamu dan mereka pernah berjaya dimasa itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Hey, sudahkah kau ingat wajah teman-teman SMA mu? Sudahkah mereka hadir dalam benakmu saat ini? Coba, pejamkan matamu sejenak, mengingat kembali, memutar kembali memori kenangan yang membawa kita dalam kurun waktu 6 hingga 9 tahun kebelakang.

 
Oh kawan, entah mengapa disela-sela jam kosong kerja aku menulis ini, tak tahan rasanya bila rindu ini ku pendam sendiri dalam hati, ku harap kelak kau akan membaca tulisanku dan merasakan hal yang sama kurasakan seperti saat ini.



Ingatkah Kalian pada Kebodohan yang Kita Lakukan, serta Beberapa Pelanggaran Kecil yang Kita Jalankan Untuk Sedikit Kesenangan?

Suasana Sekolah yang Bikin Kangen
Darah muda memang sedang deras-derasnya mengalir di dalam raga. Kita dipenuhi dengan rasa ingin tahu dan tak jarang ingin mencoba-coba. Ya, kita lebih senang tak patuh pada aturan. Kita terkadang benci dengan peraturan, dan melanggarkan merupakan hal boleh dibilang keren. Memakai kalung, dan asesoris-asesoris tubuh lain -yang tentunya dilarang-. Dan tidak jarang ada beberapa dari kita yang harus bermain kucing-kucingan dengan guru karena mengenakan seragam yang tak sesuai aturan atau karena memiliki rambut kepanjangan dan sepatu tidak berwarna hitam.

Aku juga ingat betapa kita girang bukan kepalang sewaktu ada jam pelajaran kosong karena guru yang tak bisa datang. Kita akan memanfaatkannya dengan bermain gitar, meja kelas merupakan satu set drum yang siap menggebu mengiringi kita bernyanyi memenuhi udara kelas dengan suara-suara sumbang, merasa diri saat itu merupakan juara 1 Indonesia Idol nya RCTI atau best player dari ajang dream band di TV 7. Atau beberapa yang lain memilih tidur siang dengan damainya, dan ada pula dari kita yang lebih gemar kabur ke kantin belakang, namun tak sedikit yang tetap menjadi kutu buku, dan dengan dia pula kita minta diajari -baca : minta contekan- kelak. Masih ingat ketika kita kabur -cabut- saat pelajaran fisika? Separuh, separuh siswa kelas kabur kebelakang karena niat memang tidak ingin ikut pelajaran, beruntung gurunya rada cuek, tidak dilaporkannya kepada guru piket.

Tidak, tidak hanya itu saja, masih banyak kebodohan dan kenakalan yang kita perbuat demi membuat hari kita kian seru dan berwarna. Aku ingat betapa kita nampak kompak dan bahu-membahu saat menyalin PR pada pukul enam pagi, jarang sekali bukan kita datang sepagi itu? Bahkan saat jadwal piketpun kita datang 30 menit sebelum masuk.

Maupun bertukar jawaban saat ujian kimia yang sama sekali tak kita pahami, saat itu pula bahasa isyarat, insting serta kemampuan terpendam dari panca indera kita naik ke level expert. Atau mungkin ujian matematika, saat skil simpan menyimpan kerpekan rumus kita tengah diuji saat itu.

Atau masih ingat kah kalian, saat nama kalian dipanggil ketika selesai upacara, karena masuk dalam daftar siswa yang bolos upacara dan ketangkap merokok ketika jam sekolah? Juga di strap guru killer, karena tawuran dengan kelas sebelah perihal taruhan sepakbola di sekolah?

Sungguh petualangan yang selalu membuat jantung kita berdetak beberapa ketuk lebih cepat tiap kali kita melakukannya. Bahkan ingatkah kalian saat menjahili guru baru atau mahasiswa yang sedang praktik mengajar? Membuat wajah mereka memerah seperti tomat kematangan sehingga mampu membuat kita tersenyum kegirangan. Bahkan menjahili guru seniorpun kerap kita lakukan bukan? tobat dulu lah.

Atau ingatkah kalian saat kita berkumpul menjelang Ujian Nasional membahas startegi apa yang akan kita terapkan kelak saat ujian, berdiskusi layaknya anggota DPR di Senayan sana, dan terjadi beberap drama. Hhaaaaah.

“kita masuk bersama, luluspun harus bersama”,

Itu merupakan motivasi tingkat tinggi ketika UN menjelang, tidak ada arogansi kelas, tidak ada arogansi geng-geng yang dulu kita praktekkan, disinilah kekeluargaan, kekerabatan terasa lebih erat. ingatkah kalian siapa yang mengucapkan itu?



Beda Pendapat Merupakan Hal yang Wajar, Berpaling Muka, Namun Kita Selalu Menemui Jalan Pulang Untuk Kembali Erat.

Teman Dekat
Memang segala yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, begitu pula persahabatan kita. Beberapa kali kita pernah saling mendiamkan dan tak bertegur sapa. Hanya karena masalah sederhana yang tak mampu kita selesaikan dengan cara dewasa membuat kita lebih memilih untuk berpunggung-punggungan.

Meski tentu saja hal itu tak berlangsung lama, karena harus kuakui bahwa aku selalu tak sanggup menjalani hari tanpa kalian. Terasa hampa bila hidup tidak diisi oleh kalian. Karena keriuhan, kekonyolan, baik dan buruk kalian tertulis dalam daftar isi buku kehidupan. Kalian pun nampaknya juga sama, karena kemudian kita dengan cepat berbaikan dan semuanya baik-baik saja seperti sedia kala.

Apakah kalian sekarang tidak rindu untuk berkumpul bersama dan kembali bercengkerama serta berbual membagikan kumpulan cerita ketika kita sedang tak saling bersama?



Hei, Kawan! Maukah Kalian Meluangkan Waktu, Untuk Bertemu Lagi dan Mengulang Kekonyolan Itu? 

Agar Aku Bisa Menyegarkan Ingatanku Untuk Sebuah Kisah Spekatkuler yang Akan Kuceritakan Pada Anak-cucu?
Wajib Reuni!!!
Kawan, terimakasih sekali ku ucapkan kepada kalian semua, atas 3 tahun waktu kita yang luar bisa, atas kesediaan kalian memenuhi masa muda menggeloraku dengan cerita dan kisah-kisah seru, atas tingkah polah dan tawa serta ribuan pengalaman yang ku dapati sehingga aku terkadang sering tersenyum sendiri bila mengenangnya. Kawan, maukah kalian menyempatkan waktu supaya kita bisa duduk bersama lagi berbagi cerita? 
Jika dipikir ulang, betapa lucunya kita dulu, dahulu kita selalu rajin berdoa, bahkan menangis memohon agar segera lulus, meninggalkan masa itu namun sekarang kita mendamba untuk kembali ke masa putih abu-abu.

Maukah kalian mengatur dan meluangkan waktu berharga kalian sejenak saja untuk saling bersua? Menceritakan lagi kisah-kisah indah kita saat kita merasa dunia dalam genggaman kita?

Untuk berbagi cerita dan mengulang masa muda, merasa masih 17 tahun dan selamanya,

Kawan, marilah berkumpul kembali bersama, untuk sejenak melupakan tanggungjawab orang dewasa.





Dariku,
Sahabat kalian yang hampir tenggelam dalam palung rindu

inspirasi : hipwee.com

No comments:

Post a Comment