Monday, August 10, 2015

Pulau Kemudi, Destinasi Baru Bunguran Selatan

Beberapa waktu lalu saya memposting tentang indahnya pulau Senoa di Kecamatan Bunguran Timur, yang memiliki pantai hingga pemandangan bawah laut yang luar biasa. Nah, Kabupaten Natuna yang merupakan kepulauan ternyata masih banyak menyimpan pulau-pulau eksotik yang sangat sayang bila kamu tidak mengunjunginya.

Sebut saja pulau Kemudi di Kecamatan Bunguran Selatan. Pulau Kemudi merupakan 1 dari 7 pulau-pulau kecil indah yang ada di Kecamatan Bunguran Selatan, untuk mencapainya cukup menggunakan atau menyewa pompong / perahu warga setempat dan perjalanan dimulai dari dermaga Batu Kasah di Desa Cemaga Tengah. 

Saat liburan mudik lebaran kemarin, saya bersama dengan saudara dan rekan-rekan dari UGM yang kebetulan sedang melaksanakan program KKN di sana, berangkat menuju Pulau Kemudi. Perjalanan kami hampir sempat tertunda selama 2 jam dari waktu yang ditentukan karena hujan deras serta angin ribut melanda daerah Bunguran Selatan, bahkan saking derasnya hujan, pulau Kemudi sempat "menghilang". Setelah sabar menunggu, alhamdulillah cuaca menjadi cerah dan perjalananpun dimulai. 

Selama perjalanan, pompong / perahu kami berkali-berkali diterjang gelombang, bahkan rekan-rekan yang duduk di anjungan depan pompong sudah basah kecipratan air laut yang masuk ke dalam. Sedikit kekhawatiran sempat saya alami, takut saja bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hujan dan angin memang sudah reda, namun ternyata gelombang masih menyisakan sedikit "galak"nya. Namun dengan sedikit kepiawayan sang kapten (juru kemudi) pompong -yang saya tidak tahu namanya-, akhirnya kami sampai ke pulau Kemudi dengan selamat. Batu karang bawah laut seakan mengucapkan selamat datang ketika kami baru akan tiba dipulau tersebut, air laut yang jernih, pepohonan kelapa menari ditiup angin seakan menyambut kedatangan kami dengan gembira.
Pantai Pulau Kemudi

Pulau Kemudi sangat bersih karena belum banyak yang mengetahui tentang pulau ini, saat kami kesana ada beberapa orang lokal yang sudah datang duluan menikmati indahnya pulau ini. Di pulau ini belum terdapat bangunan untuk tempat beristirahat, dan juga dermaga untuk bersandarnya pompong, sehingga saat tiba disana pompong yang kami tumpangi labuh jangkar dan "menabrak" pantai. :)
Pompong labuh jangkar.
Saat tiba di pulau, kami langsung menurunkan perbekalan, dan sebagian kami langsung berkeliling pulau sambil mencari tempat berteduh dari sengatan matahari. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 -15 menit dengan berjalan santai untuk mengelilinginya. Setelah tempat didapat, bekal-bekal kami pindahkan dan lanjut beristirahat sejenak, berlindung dari teriknya matahari yang berada di atas kepala. 

Sebagian dari rekan-rekan UGM sudah berenang duluan, tak peduli panasnya matahari di atas sana. Maklum, fikirku, di Jogja jarang bisa ditemui pantai untuk bisa direnangi dengan aman, pantai-pantai di Jogja yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia memiliki ombak-ombak yang besar sehingga tidak aman untuk berenang di sana. Beda dengan disini, gelombang kecil, air laut yang cenderung tenang, berenangnya juga ditemani dengan pemandangan-pemandangan yang luar biasa. Nah, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sudah lama tak berenang di laut, tak tahan juga melihat keasyikan teman-teman yang berenang, maklum udah setahun lebih tidak merasakan asinnya laut Natuna, akhirnya saya juga ikut menceburkan diri, tak peduli dengan sengatan matahari, memang tubuh ini sedang membutuhkan vitamin sea. :D
Jalan-jalan Men!
Setelah puas berenang, saya naik ke pantai dan beristirahat sambil meminum air kelapa, makan singkong rebus dan bakar ikan yang tadi diberikan oleh sang kapten, terbayang bagaimana sempurnanya liburan kali ini. Memang awalnya kami berniat untuk memancing, namun berhubung umpan tidak tersedia, akhirnya rencana memancing kami tiadakan.

Waktu menunjukkan pukul 2.30 sore, saatnya pulang, sambil berkemas, kami juga mengumpulkan sampah-sampah untuk dibakar, sampah-sampah ini sebagian besar berasal dari barang-barang yang hanyut terbawa ombak. Jika tidak dibakar maka ia akan menumpuk di pantai dan berujung dengan pencemaran laut. Dan ada juga sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung yang dibiarkan berserakan. Jika tidak kita yang membersihkan lalu siapa lagi? mulai lah dari diri sendiri untuk sebuah perubahan yang lebih baik, benar kan?

Dan saatnya pulang, setelah semua barang dimasukkan ke pompong, kami berangkat pulang menuju pulau Bunguran, air laut pun normal, tak bergelombang seperti saat perjalanan pergi tadi pagi. 
Perjalanan Pulang. :)

Selama perjalanan, bunyi mesin dan gemercik air laut merupakan simponi irama indah sambil menikmati indahnya alam Bunguran Selatan, di sebelah kanan terpampang sebuah pulau namanya belum tau) ditambah dengan susunan bebatuan granit yang indah, di sebelah kiri terpampang Bukit Pian Padang dari kejauhan serta pulau Jantai (saudara pulau Kemudi), di depan tersaji pemandangan Batu Kasah, Batu Serapong, serta Gunung Ranai dari kejauhan yang gagah berdiri meski sedikit tertutup awan sore. Rasanya terlalu singkat untuk menikmati perpaduan keindahan ciptaan Sang Maha Indah ini, namun waktu juga yang memisahkan. Sampai ketemu lagi, Kemudi. :)

ini baru satu pulau, sedangkan Kabupaten Natuna memiliki ratusan pulau yang menyimpan sejuta rahasia keindahan. ENJOY NATUNA. :)

No comments:

Post a Comment