Saturday, July 4, 2015

Natuna Berduka : Antisipasi yang (boleh dikatakan) Terlambat

Sebenarnya saye malas naktulis-tulis ini, nanti tentulah ada yang komen "ndeksek gune koar-koar kat sini, ndekkan didengu gek".
Tapi tak apa lah, karena untuk saat ini hanya ini yang bisa saya lakukan, semoga yang kecil ini bisa membawa perubahan.

Setelah musibah baru nak semue pade sibok. Jadi pepatah "LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI" yang selalu di gaung-gaungkan itu seakan hanya sampai dimulut saja, tidak dilaksanakan. Terbukti kan  setelah kejadian baru nak surati PELNI agar tetap layani Natuna. Deghi lok ti gimene jek itak yau? Kenapa setelah kejadian baru dilakukan?
via http://www.haluankepri.com/
Padahal pengalihan jalur kapal ini hampir tiap tahun dilakukan oleh PELNI, dengan alasan membackup pemudik dari Jawa dan Kalimantan. Emang dari dan ke Natuna tidak ada pemudik? semacam pulau hantu tak berpenghuni gitu?
Dulu, "tingkah" ini seperti tak dipedulikan, dulu-dulu tak ada perhatian. Sekarang setelah terkena efek seperti ini barulah nak sibuk surat menyurat. Kita, saya tidak mengatakan mereka yang barusan saja. Kita, sepertinya memang terdidik untuk melakukan aksi saat sudah terjadi kejadian, tidak menganalisa terlebih dahulu untuk melakukan tindakan preventif.

Pernah juga dulu saya ingat betul, jalan didepan rumah, sudah rusak parah, berlubang hingga kedalaman sekian puluh cm dan dengan lebar yang tak kecil. Tidak ada tindakan preventif pemerintah untuk memperbaiki jalan tersebut hingga terjadi beberapa kecelakaan dan yang terkahir kecelakaan parah hingga menyebabkan pengendara meninggal, baru lah jalan itu diperhatikan. Itu pun hanya ditampal dengan semen seadanya, "jek pade ndek" kata orang Ranai.

Tidak ada dana? Bohong! APBD Natuna itu Triliunan, keliatan secara signifikan apa saja yang dibangun? apa saja yang berubah? Listrik masih sering mati, jalan masih lobang-lobang, selokan parit amburadul, pembangunan asal jadi. Malah yang ada Gedung Srindit yang bersejarah itu dirobohkan.
via http://economy.okezone.com
Mari kita contohi orang-orang dan kinerja pemerintah di luar, Jogja misalnya. Jalan di Jogja itu rusak tidak rusak selalu ada perawatan, agendanya berlangsung tiap tahun! dan begitu juga di kota lain. Kenapa tidak dicontoh? 

Saya sering mendengar tentang kunjungan kerja, kesini lah kesitu lah. Yang di dapat apa? Yang dicontohi apa? Ngapain saat kunjungan kerja ramai-ramai yang menghabiskan uang rakyat ratusan juta rupiah itu? Karoke? ke belenje betu akik?

Semoga kita semua sadar, saling nasehat menasehati saja dalam melakukan kebaikan dan amal, itu salah satu kunci sebuah negeri akan maju dan berkembang. Aamiin.

No comments:

Post a Comment