Friday, July 3, 2015

Natuna Berduka : Bukti Bahwa Natuna dan Pulau-pulau Terluar Lainnya (masih) Belum Diperhatikan

Natuna berduka, sumber : @tirexx_
Private Message (PM) dari rekan-rekan BBM saya masih berkutat dengan ucapan belasungkawa kepada korban-korban Pesawat Hercules yang jatuh akhir juni lalu. Begitu juga dengan akun instagram, hingga facebook yang tak kalah luar biasanya memberikan informasi terkait kecelakaan ini.

Jujur, ini merupakan musibah besar bagi kami, warga Natuna. Terlebih terjadinya dibulan Ramadhan yang penuh berkah ini, dan waktu yang mendekati idul fitri yang sebentar lagi. Seharusnya saat ini mereka sudah berkumpul dengan sanak saudara masing-masing berbagi cerita dari seberang, atau bermain futsal dengan sejawat untuk sekedar tertawa melepas rindu setelah merantau di negeri orang. Seharusnya..... 

Tapi takdir berkehendak lain, kita menyayngi mereka, namun cinta Allah melebihi cinta kita semua. Allah memanggil mereka menghadap kepada_Nya. Korban-korban pesawat Hercules sebagian besar adalah masyarakat Natuna, masyarakat asli, dan sebagian hanya ditugaskan di sana (TNI) dan yang lain mereka yang ingin berlibur.

Setau saya, pesawat Hercules ini memang rutin melakukan penerbangan diakhir bulan untuk mengantar keperluan logistik, biasanya dengan rute Malang, Jakarta, Pekanbaru, Medan, Tj. Pinang, Natuna dan Pontianak. Berita menjelaskan bahwa penumpang dari Natuna adalah yang terbanyak yang menjadi korban. Ya, kami tidak memungkiri hal itu.

Tapi mengapa banyak diberita tidak dicantumkan tentang warga sipil dari Natuna yang sebagian besar menjadi korban? tidak tahu? atau sengaja?

Kami, warga sipil Natuna kerap menggunakan pesawat Hercules ini sebagai sarana transportasi udara yang murah dan cepat untuk mencapai kampung halaman, disamping KELEWAT BATASnya harga tiket pesawat reguler, dan KETIDAKJELASANnya jadwal kapal PELNI. Kami harus membayar sekitar 1 juta lebih untuk rute Natuna - Batam, dan harus menambah lagi jika ingin melanjutkan ke tempat lain, bandingkan dengan di Jakarta misalnya, harga segitu sudah bisa Jakarta - Bali pp. 
Perbandingan Tiket Natuna - Batam pp, dengan Jakarta - Batam pp, di tanggal yang sama. Dengan jarak tempuh danfasilitas yang berbeda. sumber : traveloka.com

Jika kapal PELNI "kumat", alternatif lain adalah dengan kapal Perintis, dari Tanjung Pinang ke Natuna ditempuh dalam waktu berpuluh-puluh jam. Beruntung jika tidak kena badai di laut, dan juga penumpang tak hanya kami saja. Terkadang kami harus berbagi dengan binatang ternak. Karena sejatinya tu adalah kapal barang yang dijadikan kapal penumpang.

Menggunakan pesawat Hercules sudah lama dilakukan oleh masyarakat Natuna, sebagai bukti solidnya kami dengan TNI di wilayah kami. Saya sendiri pernah naik pesawat ini beberapa kali, memang di dalam tidak tersedia tempat yang memadai, duduk pun berhadap-hadapan khas tentara saat naik pesawat seperti difilm-film hollywood itu. Wanita, orang tua, dan anak kecil adalah prioritas utama untuk dapat tempat duduk. Sedangkan pria dewasa terpaksa berdiri dan/atau duduk di atas tumpukan-tumpukan barang.
Keadaan di dalam pesawat.
Pesawat ini dipilih ya karena inilah satu-satunya transportasi yang murah dan cepat, mengingat sekarang semua seakan berpacu dengan waktu. Pesawat ini dipilih karena kami sebagian besar tidak mampu untuk membayar harga tiket pesawat reguler yang sangat mahal serta jadwal kapal yang tidak jelas, malah diakhir-akhir ramadhan pernah terjadi saat musim mudik PELNI memindahkan rute kapalnya dengan TIDAK MELEWATI Natuna. Padahal ada ribuan pemudik yang ingin menggunakan jasanya, baik dari dan tujuan ke Natuna. 

Natuna juga Indonesia.

Kami tidak lah minta merdeka atau pisah negara. Kami hanya ingin diperlakukan layak sebagai "penjaga" pintu gerbang daulat maritim Negara ini. Jika boleh memanja, kami ingin dapat perhatian lebih, ada timbal balik dari apa yang sudah kami beri. Negara mendapat banyak hasil bumi dari Natuna, tapi transportasi kami saja masih sebegini adanya.


"Yang Indonesia itu Natuna apa HASIL BUMInya saja?"

Mudah-mudahan dengan kejadian ini, mata dan hati kalian, kita semua, menjadi terbuka, sadar bahwa ada setitik pulau di ujung utara ini. Sadar bahwa ada banyak rakyat yang berharap mendapat hak yang adil dengan yang lainnya. Beri fasilitas yang pantas dengan harga yang terjangkau tentunya. Semoga musibah ini yang terakhir.

Aamiin.

No comments:

Post a Comment