Friday, February 26, 2016

Balikpapan, Pantai Manggar "Segara Sari", Wisata Favorit di Kota Minyak

Setelah berwisata pantai pertama sekaligus wisata sejarah yang kedua di Balikpapan ini, perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Manggar "Segara Sari". Nah kalo ini pantai adalah yang selalu ramai dengan wisatawan. Apalagi hari libur gini. Tak sulit mencari lokasinya yang juga masih di deretan pantai Lamaru tadi, cuma agak ke "sono" dikit. Pantai Manggar "Segara Sari" merupakan pantai yang landai dan memiliki air yang bersih.
Pantai Manggar

Pantai ini bernama asli Pantai Segara Sari, namun masyarakat menyebutnya Pantai Manggar, karena lokasinya berada di desa Manggar, berada pada jarak sekitar 20 km dari pusat kota Balikpapan. Layaknya tempat wisata yang sudah terkenal, pantai ini memiliki fasilitas-fasilitas seperti warung makan, penyewaan tikar, ban pelampung, mushala, tempat jual souvenir, tempat bilas dan toilet, serta penyewaan banana boat. Jika hari libur tiba, tempat ini akan ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik dari Balikpapan, bahkan dari luar seperti Samarinda dan Kutai Kartanegara.
Penyewaan Pelampung
Kami berhenti untuk istirahat makan diwarung salah satu teman kerja yang kebetulan membuka usaha keluarganya disini. Memesan makanan dan air kelapa sambil istirahat sebentar. Kemudian kami berjalan menyusuri pantai. Menikmati indahnya pantai ini, saya teringat dengan pantai Kute di Bali, hampir mirip hanya saja pantai Manggar tidak memiliki gelombang, air lautnya cendrung tenang, apa karena air sedang surut kali ya. 
Isi perut seeek
Tak jauh dari lokasi kami berisirahat yang juga masih dalam area wisata pantai Manggar terdapat patung Beruang Madu besar. Beruang Madu merupakan binatang khas dan ikon kota Balikpapan dan Kalimantan Timur. 
Yang atas Ikon Balikpapan, bawahnya ikon hatimu, eaaaaaaaa
Tak ketinggalan donk kami menyempatkan diri untuk jepret-jepret sebentar. Lalu kembali ketempat istirahat, dan pulaang. Saat perjalanan pulang saya menyempatkan untuk berhenti di Jembatan Manggar yang tadi waktu pergi sempat saya urungkan. Keluar dari mobil dan menikmati udara sore yang berhembus dimuara sungai Manggar ini, lumayan untuk merefresh kembali otak. Jepret-jepret sebentar, dan akhirnya pulang kost beneran.
Muara Sungai Manggar, dari Jembatan Manggar

Sampai ketemu di postingan Balikpapan berikutnya.



Sumber :
http://www.travellers.web.id/indonesia/east-kalimantan/manggar-segara-sari-beach-and-bandar-balikpapan/

Thursday, February 25, 2016

Balikpapan, the 1st Beach and the 2nd Historical Travel

Setelah puas dengan yang bertema hewan-hewanan, perjalanan kami lanjutkan ke Monumen Jepang, berkunjung ke Monumen ini akan dapat dua wisata sekaligus, wisata sejarah dan wisata pantai. Yap, Monumen Jepang terletak di deretan pantai Lamaru Balikpapan, khusus untuk Monumen Jepang nya terletak di pantai Sosialita namanya, begitu kata temanku menceritakan. Untuk mencapainya tidaklah sulit. Selain dengan kendaraan pribadi, biasa juga naik angkutan umum ("taxi" jalur 7) dan ojek. Hanya saja mata kita harus jeli membaca plang penunjuk arah ke Monumen Jepang ini. Jarak Monumen Jepang dan pantai Lamaru (Sosialita) ini tidak begitu jauh dari jalan raya, sekitar 200 meter masuk ke dalam.
Plang Penunjuk Arah, via pegipegi.com
Pantai ini (ntah saya bingung dengan namanya apakah Lamaru atau Sosialita) merupakan salah satu objek wisata Balikpapan, meski sudah "punya nama" namun pantai ini jauh dari fasilitas-fasilitas tempat wisata, tidak ada toilet umum, tidak ada tempat bilas dan warung makan. Hanya ada bangunan seperti kapal, mungkin itu sebuah cafe, namun sudah (atau sedang) tutup. Juga ada bangunan seperti rumah adat di dekat pantai nya, yang juga terlihat sepi. Lokasi pantai yang sepi ini sangat pas bagi kita yang ingin "kabur" dari keramaian kota. 
Pantai Lamaru (Sosialita) ?
Bersantai dengan ditemani pepohonan serta suara ombak yang menepi, bikin tenang fikiran yak. Pantai ini memiliki garis pantai yang panjang, dan dihiasi oleh pepohonan pinus sepanjang pantai, kalau di tempat saya sama seperti pantai Sebagul sepertinya, -baper lagi-. Lokasi seperti ini kerap menjadi tempat untuk berkemah bagi sebagian warga. 
Rumah Adat
Tepat di dekat pantai ini (kalau kita masuk dari bangunan yang mirip kapal tadi, ke arah pantai dan jalan ke arah kiri), setelah rumah adat yang saya bilang tadi, terdapat Monumen Jepang. Monumen / Tugu Jepang ini merupakan Tugu Peringatan bagi para serdadu Jepang yang meninggal saat perang dunia kedua melawan serdadu tentara sekutu dipimpin Australia yang mendarat di sana antara tanggal 26 Juni 1945 - 15 Juli 1945. Tentara Jepang saat itu dipimpin Shizuo Sakaguchi yang tanggal 23 Januari 1942 mendarat di sana merebut dari tentara Belanda.
Monumen Jepang, via www.jotravelguide.com
Menurut penduduk setempat, di pantai Lamaru tersebut selain tugu ternyata juga menjadi makam prajurit Jepang yang gugur ketika Perang Dunia. Tempat itu menjadi tanda puluhan prajurit Jepang yang telah gugur di sana. Tugu dan makam itu dibangun tahun 1990 dan merupakan benda cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Kondisi Pagar yang Sudah Rusak
Di Kuburan Jepang terdapat sebuah tugu peringatan yang berhiaskan huruf Kanji yang dibangun di atas makam pemimpin tentara tersebut. Makam ini dikelilingi dengan taman lengkap dengan sebuah gazebo dan dilengkapi juga dengan toilet umum. Kuburan Jepang ini dikelola oleh “Yayasan Sakura Balindo” yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Balikpapan. 
Narsis dikit dah.
Sayangnya tempat ini seperti tidak terawat, terlihat dari pagar-pagar sudah banyak yang rusak. Saat saya tiba disana juga pintu gerbangnya tertutup dan tidak ada penjaganya. Jadi cuma bisa mengambil gambar dari luar aja. Semoga hal ini dapat perhatian dari pihak yang bersangkutan. Penting bagi pemerintah untuk merawat tempat ini. Tempat ini merupakan saksi bisu tentang sejarah Balikpapan dimasa-masa kemerdekaan. "Jangan Tinggalkan Sejarah" bukan begitu kata Sang Proklamator kita. Saya menyempatkan diri untuk mengeksiskan diri sebentar, jepret-jepret, dan langsung melanjutkan perjalanan.



Sumber :

Tuesday, February 23, 2016

Balikpapan, the 3rd Destination : Crocodile!

Hari ketiga di tahun yang baru ini. Masih dalam tema explore Balikpapan, masih dalam #serbamumpung yang kemarin itu, juga masih ditemani teman kantor yang sama. Kali ini jadwalnya menuju banyak tempat yang sudah diagendakan diarah yang berbeda dari tujuan hari kemarin (gak tau arah apa). Udah bangun dari pagi, mandi dikamar mandi yang berukuran mini dikost itu, siap-siap, udah ganteng dah pokoknya. Tinggal menunggu si temen datang.

Setelah dia sampai, perjalananpun dimulai. Tujuan pertama kali ini adalah Penangkaran Buaya di Teritip. Sekitar 15an km dari kost saya jalan ke arah Handil (Handil juga saya tidak tahu dimana). Perjalanannya melewati daerah industri Batakan, yang kiri kanannya dihiasi oleh kantor-kantor perusahaan ternama Indonesia bahkan dunia, pengen kali awak kerja disalah satunya. O:) . Juga melewati Sadion Sepak Baru Persiba yang baru, sedang dalam proses konstruksi. 

Perjalanan terus berlanjut melewati Jembatan Manggar yang suasananya agak-agak mirip dengan Sungai Bulan di tempat saya, baper lagi. Ada niat untuk berhenti di tempat ini, namun saya urungkan dan fokus ke tujuan pertama dulu. Sekitar 30 menit lebih perjalanan kami, akhirnya sampai juga di TKP, meski dengan sedikit bantuan GPS, karena temen saya ini rada-rada lupa juga. Jika perjalanan kita mulai dari kota Balikpapan, lokasinya berada di kanan jalan, ada plang penunjuk arah juga yang membuat kita tak sulit untuk mencarinya. Saat ada petunjuk arah ditepi jalan, masuklah mengikuti jalan tersebut, sampai menemukan dua buah patung buaya, itu berarti anda tidak kesasar. :D
Patung Buaya, via tempatwisatadaerah.blogspot.com
Penangkaran Buaya Teritip Letaknya tak jauh dari Pantai Manggar, yang merupakan salah satu obyek wisata favorit di Balikpapan. Lokasi penangkaran tersebut berada di Jalan Mulawarman No 66, Desa Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Balikpapan atau berjarak sekitar 28 kilometer dari pusat kota Balikpapan. 
Dikelola oleh swasta
Ada ratusan, mungkin ribuan jenis buaya disini, dari buaya Muara, Buaya Supit hingga Buaya Air Tawar, yang tidak ada hanya Buaya Darat sepertinya. Penangkaran ni sudah berdiri sejak tahun 1991 diatas lahan seluas 5 hektar (seumuran gueh ni tempat). Dikelola oleh swasta di bawah CV. Surya Raya. Di tempat ini ada berbagai kegiatan, kita bisa berfoto dengan anak buaya dan memberi makan buaya dengan membeli umpan ayam atau bebek di lokasi tersebut. Selain buaya, di lokasi ini juga bisa kita tunnggangi Gajah Lampung dan melihat beberapa monyet. Mungkin tempat ini bakal menjadi Kebun Binatang Mini di Balikpapan.
Kumpulan foto-foto Penangkaran Buaya Teritip

Bahkan menurut artikel yang saya baca. Di sini ada warung yang menyediakan sate buaya. Nah loh, penasaran gak tu ngerasain sate buaya yang memiliki banyak khasiat? Di tempat ini juga terdapat semacam panggung terbuka dengan gaya khas Kalimantan Timur, mungkin digunakan untuk atraksi yang menghibur para pengunjung. Setelah puas berada disini, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya. Bhaay....


sumber :
http://tempatwisatadaerah.blogspot.co.id/2015/03/beribur-ke-penangkaran-buaya-di-teritip.html
https://kotabalikpapan.wordpress.com/pariwisata/penangkaran-buaya-di-teritip/


Sunday, February 21, 2016

Balikpapan : The Urban Legend

Perjalanan teman saya terhenti, sambil menunjukkan arah rumah tua dengan bibirnya yang dimonyongkannya. Mata saya tertuju pada sebuah bangunan tua yang sudah tak beratap, terlihat usang dengan ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan semak belukar. Rumah berwarna putih tersebut sudah dipenuhi lumut dan coretan-coretan tangan "kreatif" manusia (anak kekinian). Namun tak mengurangi kesan angkernya.
Rumah Pembantaian
Yak, ini adalah rumah pembantaian yang melegenda itu. Terletak di kawasan Gunung Dubs di dalam komplek Pertamina Balikpapan. Disebut dengan rumah pembantaian dengan kisah yang bermula di zaman penjajahan Belanda dahulu. Saat itu Belanda sedang menguasai kilang minyak yang ada di Balikpapan. Kemudian datanglah pasukan Jepang ke Kalimantan yang masuk melalui utara lewat Tarakan. Saat itu merupakan masa peralihan kekuasaan antara Belanda dan Jepang yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia. 

Jepang yang mengetahui adanya kilang minyak di Balikpapan ingin menguasainya dan mengirim pesan pada Belanda untuk tidak membakar kilang tersebut. Namun oleh Belanda pesan tersebut tak dihiraukan. Jepang yang mengetahui kilang minyak dibakar oleh Belanda menjadi murka dan merangsek masuk ke Balikpapan dan menangkap tentara Belanda di Balikpapan, dan pihak Jepang pun berusaha menangkap semua orang Belanda yang ada di Balikpapan.
Pihak Jepang menyisir semua tempat di Balikpapan dan akhirnya sampai di Gunung Dubs. Disana ada seorang suster bernama Maria van Veenen yang juga ikut tertangkap bersama beberapa orang Belanda lainnya. Sebagian orang Belanda yang ditangkap dibawa ke tempat yang bernama Banua Patra dan dibantai di sana (kejadian ini juga yang melatarbelakangi dibuatnya Monumen Perjuangan Rakyat). Suster Maria dan beberapa Belanda yang lain disekap di sebuah rumah di dekat jembatan gantung.


Terjadi perlawanan oleh orang Belanda pada Jepang di rumah tersebut. Beberapa orang lain termasuk suster Maria berhasil melarikan diri ke hutan-hutan menuju jembatan gantung yang terletak di belakang rumah tersebut. Namun usaha mereka sia-sia, sigapnya gerakan tentara Jepang menghalau perlawanan dan mengejar mereka yang melarikan diri.

Orang Belanda yang tak sempat melarikan diri dihabisi secara sadis dirumah tersebut. Termasuk keluarga suster Marie. Setelah membantai orang-orang Belanda di rumah tersebut, tentara Jepang mengejar sebagian lain yang kabur. Suster Marie dan beberapa yang lainnya akhirnya terdesak di jembatan gantung dan dihabisi satu persatu oleh tentara Jepang secara keji.

Hingga saat ini, rumah yang digunakan tentara Jepang untuk membantai orang-orang Belanda itu disebut dengan rumah pembantaian, dan jembatan tempat dibunuhnya suster Marie itu menjadi salah satu tempat paling angker. Sejak saat itu arwah suster Marie selalu muncul didaerah-daerah dekat tersebut, seolah tidak menerima kematiannya yang tragis.
Jembatan Gantung
Cerita tentang rumah pembantaian, jembatan gantung dan suster Marie sudah menjadi urban legend masyarakat Balikpapan. Sebuah daerah yang konon dihantui oleh hantu Suster Maria adalah kawasan Gunung Dubs, Gunung Pancur, kawasan Volker, dan sebuah rumah tua dan jembatan gantung. Seluruh tempat itu memiliki sejarah kelam yang berkaitan dengan kehidupan Suster Maria di masa lalu. Di tempat-tempat itulah, hantu Suster Maria kerap menampakkan dirinya dan mengganggu orang-orang yang memasuki daerahnya.

Menurut orang-orang setempat, Suster Maria sering menampakkan dirinya kepada pengendara ketika melintas di jalanan terjal yang ada di kawasan Volker. Beberapa orang mengaku, ketika melintas di sana, kursi tumpangannya yang semula kosong tiba-tiba terasa berat seolah ada penumpang yang tak kasatmata. Orang-orang yang mengendarai mobilnya juga mengaku melihat penampakan hantu suster di kursi kosong di belakangnya, ketika tanpa sengaja melihat dari kaca spion ketika melaju di tikungan dekat Gunung Dubs. Mitos yang beredar dimasyarakat adalah, konon jika kamu melintas di sana dengan menyisakan satu kursi kosong di kendaraamnu, maka hantu Suster Maria akan menampakkan diri kepadamu. Sosoknya yang mengerikan dengan pakaian lusuh penuh darah akan menghantui dirimu selama perjalanan. Tidak sedikit kejadian menakutkan semacam ini merupakan penyebab dari kecelakaan yang sering terjadi di kawasan Volker dan Gunung Dubs.

Menurut cerita, orang-orang yang pernah mampir di Gunung Dubs atau ke Volker – terutama di sebuah rumah tua, dan jembatan gantung yang ada di kawasan tersebut, pasti merasakan aura-aura mistis dari tempat itu. Beberapa dari mereka bahkan menceritakan pengalamannya melihat seorang perempuan berseragam suster tiba-tiba menampakkan diri di depan mereka. Suara-suara tanpa wujud juga kerap terdengar, seperti langkah-langkah di semak belukar yang ada di sana, siulan-siulan aneh juga sering terdengar bagi pengunjung di sana.





sumber :