Friday, September 11, 2015

11 September : Hari RRI (Radio Republik Indonesia) #hariinidalamsejarah

RRI, via fajar.co.id
Banyak peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 11 September, salah satunya adalah Hari Radio Republik Indonesia, kita biasa menyebutnya dengan RRI. Karena pada tanggal ini 70 tahun yang yang lalu (11 September 1945), RRI mengudara untuk pertama kalinya.

Sejarah berdirinya RRI tak lepas dari perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya. Dan tentu juga didukung oleh figur-figur yang luar biasa sehingga RRI bisa berdiri dan menjadi eksis hingga saat ini. 
Jusuf Ronodipuro, via http://infosketsa.com
Salah satu dari sekian banyak figur pejuang-pejuang radio tersebut adalah Jusuf Ronodipuro, beliau adalah pegawai Hoso Kyoku (Radio Jepang) yang memberi tahu kepada Dr Abdulrachman Saleh bahwa terhitung tanggal 18 Agustus 1945, radio penyiaran Jepang itu sudah tidak mengudara lagi. Tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja timbul niat Pak “Karbol” (julukan Abdulrachman Saleh) untuk membuat radio pemancar sendiri yang akan ditempatkan dibagian Faal Sekolah Tabib Tinggi Jakarta (kemudian menjadi FKUI). Ahirnya kedua orang perintis Radio Republik Indonesia ini berhasil mengudarakan “The Voice of Free Indonesia" pada tgl, 22 Agustus 1945. 

Pada tanggal 10 September 1945, para pejuang radio  yang bekerja di Hoso Kyoku seluruh Jawa berkumpul di Jakarta untuk merundingkan cara pengambil alihan Hoso Kyoku yang kemudian di persemabahkan kepada Republik Indonesia sebagai alat perjuangan bangsa.
Pak Karbol, via http://infosketsa.com
Selesai pertemuan di Pejambon delegasi radio menuju ke rumah Okonogi Kepala Pusat Hoso Kyoku untuk membicarakan penyerahan pemancar-pemancar radio kepada RRI, tetapi tidak berhasil. Alasannya bahwa semua pemancar dan alat-alat Hoso Kyoku sudah didaftar dan daftar-daftar itu sudah ditangan Komando SEAC di Singapura.

Kemudian delegasi meninggalkan rumah Okonogi yang sempat mengucapkan selamat berjuang kepada angkasawan radio. Perundingan selanjutnya diadakan di rumah Adang Kadarusman di Jalan Menteng Kecil, dan tepat pukuk 24.00 wib tengah malam rapat dibuka oleh Dr. Abdulrachman Saleh .

Pada tgl 11 September 1945 malam hari, bertempat dirumah Adang Kadarisman, Pak Karbol memimpin rapat yang menandai berdirinya Radio Republik Indonesia. Peserta rapat terdiri dari utusan daerah ex stasiun penyiaran Jepang, antara lain :
  • Utusan dari Jakarta : Adang Kadarusman, Sutojo Surjodipuro, Jusuf Ronodipuro, Sukasmo, Syawal Mochtarudin dan M.A.Tjatja.
  • Utusan Dari Bandung : Sjakti Alamsjah, RA.Dardja, dan Agus Marah Sultan.
  • Utusan dari Yogyakarta : RM.Soemarmadi, dan Sudomomarto
  • Utusan dari Surakarta : R.Maladi  dan Sutardi Hardjolukito.
  • Utusan dari Semarang : Suhardi dan Harto.
  • Utusan daru Purwokerto : Suhardjo.
Pertemuan berlangsung dalam suasana ramah tamah , tetapi penuh rasa tanggung jawab dan berakhir pada pukul 06.00 pagi yang menelurkan keputusan dengan suara bulat antara lain :
  • Tanggal  11 September ditetapkan sebagai hari berdirinya RRI.
  • Semua pegawai diminta menentukan pendiriannya untuk menjadi pegawai RRI yang harus disertai sumpah setia kepada RRI dan negara Republik Indonesia atau tidak menjadi pegawai RRI.
  • Organisasi semua radio tunduk kepada Komando Pusat (Dr.Abdulrachman Saleh)
  • Masing-masing studio mengadakan penyerahan pemancar dan studionya dari pihak Jepang.
  • Mencari tempat diluar kota untuk calon tempat perjuangan selanjutnya .
  • Memindahkan pemancar-pemancar besar dari kota ketempat-tempat perjuangan selanjutnya dan beserta alat-alat penting yang dihawatirkan di bom oleh musuh.
  • Menyiapkan studio-studio darurat beserta mobil .
Demikian antara lain keputusan-keputusan dari  13 keputusan yang merupakan dasar atau fundamental RRI dalam menghadapi masa-masa perjuangan selanjutnya. Perundingan malam itu juga menghasilkan Sumpah 11 September 1945 yang dikenal dengan Tri Prasetya RRI. Juga semboyan “Sekali Diudara Tetap di Udara”.
Tri Prasetya RRI berbunyi :
  • Kita Harus menyelamatkan segala alat siaran radio dari siapapun yang hendak menggunakan alat tersebut untuk menghancurkan negara kita . Dan membela alat itu dengan segala jiwa raga dalam keadaan bagaimanapun dan dengan akibat apapun juga.
  • Kita harus mengemudikan siaran RRI sebagai alat perjuangan dan alat revolusi seluruh bangsa Indonesia dengan jiwa kebangsaan yang murni , hati  yang bersih dan jujur serta budi yang penuh kecintaan dan kesetiaan kepada tanah air dan bangsa.
  • Kita harus berdiri diatas segala aliran dan keyakinan partai atau golongan dengan mengutamakan persatuan bangsa dan keselamatan negara  , serta berpegang pada jiwa proklamasi  17 Agustus 1945 .
Dengan bermodalkan delapan studio yaitu di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malang, RRI menyuarakan perjuangan bangsa Indonesia ke segenap plosok tanah air.

Siaran RRI tidak saja dicari oleh pendengar bangsa Indonesia diseluruh kepulauan nusantara tetapi juga oleh pendengar di luar negeri yang ingin mengetahui perjuangan bangsa Indonesia yang sebelum Perang Dunia II terkenal dengan Het Zachte Volk Terwereed. Siaran  RRI berkumandang dan berkembang seirama dengan meningkatnya perjuangan mempertahankan Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 melawan penjajah.

Pertempuran melawan tentara penjajah mengakibatkan lahirnya stasiun-stasiun RRI baru di Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Cilacap, Kebumen, Pekalongan, Tegal, Pati, Salatiga, Mojokerto, Magelang, Wonosobo, Blitar, Madiun, Bondowoso, Kotaraja (Banda Aceh), Bukittinggi, Palembang dan Padang seluruhnya berjumlah 21 stasiun, Dengan demikian jumlah stasiun RRI menjadi 29 buah termasuk 8 stasiun yang ada sebelumnya. 

Sebagai akibat dari Perang Kemerdekaan Pertama  , jumlah stasiun RRI menyusut dan tinggal 10 stasiun yaitu Yogyakarta, Madiun, Kediri, Surabaya, Malang, Blitar, Magelang, Purwokerto dan Pekalongan menggabung di Wonosobo, dan Pati. Untuk menghemat perlatan dan tenaga, maka stasiun RRI Surabaya, Kediri dan Malang  digabung menjadi satu  dengan nama RRI Jawa Timur berkedudukan di Kediri. Sedangkan Blitar dan Jombang menjadi stasiun reley. Demikian pula  RRI Magelang, Purwokerto, Pekalongan disatukan dengan nama RRI Jawa Tengah yang berkedudukan di Magelang dengan stasun reley di Wonosobo.

Sementara itu stasiun nasional Jakarta yang beralamat  di jalan Merdeka Barat nomor 4 digunakan NICA dengan mengumandangkan siarannya melalui Radio Resmi Indonesia (Belanda), dan Jalan Merdeka Barat nomor 5 digunakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI).
Radio Resmi Indonesia ada yang disebut Radio Indonesia dan ada pula stasiun-stasiun yang diselenggarakan oleh Dients Lager Contactem ( DLC ) atau Welfare. Kemudian di banyak tempat didirikan Yayasan yang diberi nama ROIO di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, Manado, Ambon, Palembang, Padang, Bukittinggi dan Pontianak.

Radio Resmi Indonesia yang ditangani Belanda, dan Radio Republik Indonesia yang ditangani angkasawan bangsa Indonesia terlibat perang udara dengan hebat, sampai menjelang 21 Juli 1947 dimana Gubernur Jenderal Van Mook akan mengadakan wawancara pers. Para angkasawan RRI mengartikan wawancara itu mengandung  maksud tertentu dan dugaan ini ternyata benar.

Kepala Studio RRI Nasional Jakarta Jusuf Ronodipuro tanggal 21 Juli 1947 sore, masuk ke Studio dan bermalam di studio menjaga kemungkinan terjadi  sesuatu. Pada waktu itu dalam siaran ruang Dari Hati Ke Hati dengan acara Tanah Air Memanggil penyiar RRI Piet De Qoeljoe menutup siarannya dengan kata-kata  “Mudah-mudahan sampai berjumpa lagi Sekali Merdeka Tetap Merdeka“.

Tepat jam 22.30 dengan disaksikan oleh wartawan-wartawan luar negeri Stanly Swinton dari AP, Arnold Brachman dari UP dan Frik Werner dari AFP, tentara Belanda menyerbu RRI di Jalan Merdeka Barat 5. Bersamaan dengan itu tentara Kolonial Belanda melakukan perang kolonial pertama. Jusuf Ronodipuro yang saat itu berada di Studio ditangkap dan sejak saat itu sementara siaran RRI Jakarta tidak diudara , berganti dengan Radio Resmi Indonesia ( Belanda).

Meskipun RRI Jakarta diduduki pasukan NICA tetap RRI Yogyakarta sebagai tempat Ibukota RI serta stasiun-stasiun lainnya tetap mengudara. Bahkan di Sumatera lahir Studio RRI baru di Bukittinggi, Padang, Pekanbaru dan radio-radio gelap lainnya yang kesemuanya mengumandangkan perjuangan bangsa Indonesia. Pada saat perang kemerdekaan kedua, Belanda menyerang Yogyakarta secara tiba-tiba dimana perundingan sedang berjalan, maka seluruh RRI menyingkir ke daerah-daerah pegunungan .

Dalam menyingkir ke pegunungan sumpah setia kepada Republik Indonesia dan semboyan “Sekali di Udara Tetap di Udara“ dan lahirlah  RRI di rimba raya atau di pegunungan-pegunungan. Selanjutnya Belanda dan dunia internasional setelah mengakui Kedaulatan Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 yang pada masa itu menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Maka RRI kembali ke kota-kota. RRI dan ROIO (Radio Oemroep In Overgangstijd) dengan melalui RRIS menjelma menjadi RRI.

Hingga saat ini, RRI memiliki ratusan stasiun yang tersebar di seluruh Provinsi, Kabupaten, bahkan kecamatan-kecamatan di Indonesia. Tentu saja mereka berperan penting dalam menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Dirgahayu RRI, via http://www.rri.co.id

Dirgahayu Radio Republik Indonesia
SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA!!



terimakasih kepada sumber-sumber :
http://sejarahkita.blogspot.co.id/2006/09/rri-61-tahun.html
http://infosketsa.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4596%3Amenguak-sejarah-11-september-1945-&catid=41%3Aberita-headline&Itemid=1
http://lpprrinasional.blogspot.co.id/2013/02/sejarah-berdirinya-rri.html

No comments:

Post a Comment